Why Not???!!!

Posted: May 4, 2012 in Uncategorized

Why Not???!!!

 “Banyak temen yang bertanya sama gue, apakah gue dulu marah sama Tuhan karena sekarang jadi seperti ini, karena biasanya banyak orang marah dulu sebelum bisa menerima ujian dari Tuhan sambil berteriak…oh God..Why me???

“Dan gue bersyukur karena dulu gue nggak protes gitu. Coba kalo gue protes gitu, tiba-tiba dijawab Tuhan …Why not???!!!!!!….wadhuh kan bisa malu gue”

(Ferrasta Soebardi Alias Pepeng,Stand Up Comedy Akhir Tahun 2011, Metro TV)

Buat yang kemarin sempat nonton Stand Up Comedy Akhir Tahun,pasti liat waktu bagian Mas Pepeng,dan mengatakan hal diatas. Dan buat yang belum tau, Ferrasta Soebardi alias Pepeng ini mengalami Multiple Sclerosis,yang menyebabkan beliau lumpuh mulai dari bagian dagu sampai ujung kaki.

Kemarin Indonesia kembali berduka, Setelah Wakil Menteri ESDM,Widjajono Partowidagdo,Meninggal saat pendakian menuju Gunung Tambora, Menteri Kesehatan Non Aktif, Rahayu Endang Sedyaningsih juga Berpulang ke Pangkuan Tuhan Yang Maha Esa. Seperti layaknya orang yang sudah meninggal,beliau meninggalkan banyak sekali catatan hidup yang sempat terekam yang  bisa dilihat baik di media cetak,elektronik ataupun di dunia maya sekalipun. Dari sekian banyak,quote dan cerita yang berserakan di media itu,ada satu yang menusuk rasionalitas saya,yaitu ketika divonis terkena penyakit kanker paru stadium 3 pada Oktober 2010. Dengan tenang, Almarhumah  pun pernah berujar, “Kalau saya diberi kanker, why not? Ini salah satu anugerah yang lain dari Allah”.

Qoute dari Pepeng maupun Alm.Menkes,benar-benar menampar saya. Dalam kondisi separah itu,dimana banyak orang mulai bersungut, mempertanyakan eksistensi Tuhan bahkan sampai ada yang mengutukiNya, kata ini menjadi sangat dalam : WHY NOT???!!!  

Saat membuat tulisan ini,terus terang saya tidak dalam kondisi yang cukup baik (setidaknya menurut sudut pandang saya),akhir-akhir ini saya menjadi lebih banyak mengeluh,sebenarnya dari dulu juga sering ngeluh gak jelas sih…hehehehe. Mulai sering membuat kesetimbangan diri sendiri dengan orang lain. Tidak jarang saya ngomong ke Tuhan: Tuhan, kok saya begini-begini saja???Saya ingin seperti yang lain:punya karir bagus, punya status neraca keuangan yang positif, mulai membangun keluarga, mulai berpikir tentang investasi masa depan,sukses di usia muda, kaya raya di hari tua. Lalu saya berpikir,bagaimana seandainya Tuhan menjawab: “ Lha,kok ente yang ngatur???!!!”. Seperti halnya Mas Pepeng, saat itu yakinlah saudara-saudara,saya akan amat sangat malu kalau sampai Tuhan menjawab seperti itu.

Bukan mau sok alim ato gimana,sebenarnya kalo dipikir dan diselami emangnya laut, semua hal dunia ini,sudah diberikan term and contion sendiri-sendiri. God provide us BEST SITUATION even in  the hard time. Masalahnya yang terjadi adalah kita sering kepikiran:”kok begini,kok begitu,kan harusnya begini”. So let me tell you, my friend: Life isn’t always like Math. Karena menurut orang-orang yang pintar agama diluar sana,Tuhan itu misterius,dan bekerja secara misterius pula.

So,biarkan Dia yang bekerja atasmu. KehendakNya yang jadi bukan kita. Mungkin dengan begitu,kita akan lebih enteng menjalani hidup, lebih bijak melihat kesusahan,dan lebih bisa berterima kasih kepada kehidupan.

*With a glass of Ice Cappucino and Tim Tam Cheese

   Ratu Jaya, Awal Mei 2012

Kalo ditanya,ada yang gak pernah nyontek selama sekolah???akan meluncur dengan cepat jawabannya 99% pasti pernah. Dan ketika ditanya,apakah nyontek itu salah atau benar???mungkin jawabannya tidak akan secepat jawaban pertanyaan pertama. Seketika itu akan muncul berbagai macam argumentasi yang amat sangat malas saya kemukakan disini. Intinya sebagian besar alasan itu tidak lebih  dengan melaksanakan sebuah kesetimbangan kejahatan: Kalau pejabat saja bisa korupsi,kalau pedagang BBM saja bisa menimbun BBM,kalau …kalauu…kalauuu…yah,boleh saja toh nyontek itu.  Dan itulah budaya umum di negara kita,ketika melakukan sesuatu yang salah,dan itu dilakukan secara berjemaah dan tidak ditangkap polisi,maka hal itu boleh dilakukan.

Mungkin banyak yang akan berkata:” Ngapain sih repot-repot bicara nyontek. Wong,bukannya itu sudah jadi habit, sudah jadi culture di sebagian orang kita??”…Okay,let me give my argue: Nyontek itu efeknya sistemik,kawan.

Mari kita buat semacam contoh kasus: Taruhlah disebuah Ujian perkuliahan,muridnya ada 40 orang. Dari 40 orang itu,taruhlah ada 10 orang yang idealis yang tidak nyontek,pada ujian itu mendapat nilai 70-75. Sementara 30 orang lainnya nyontek, 10 orang mendapat nilai 80-85,10 orang dapat 85-90 dan 10 orang lainnya 90-95. Kemudian sang Dosen menyusun nilai berdasarkan kelompok nilai tertinggi – nilai terendah, dengan komposisi nilai, A: 90-95, B: 85-90, C:80-85, dan D:>80. Maka meranalah kelompok idealis tersebut,yang mungkin semalam suntuk belajar,menenggak bergelas-gelas kafein, atau golongan kutu buku yang hobinya bahkan tidur dengan buku, akhirnya mendapat nilai D. Sementara sisanya, yang lebih suka saya sebut golongan opportunis, tanpa begadang,tanpa pernah menyentuh buku apapun,mungkin akan berkata “Tau gak sih looo…(dengan lidah sedikit menjulur keluar),ujian kmrin gw dapat A ,padahal malamnya gw abis dugem ma cowok gw”…What a…

Mungkin tidak semua dosen menggunakan sistem diatas,tp bayangkan kalo 50% saja mata kuliah yang memakai sistem ini. Maka kemungkinan besar kelompok idealis itu akan berakhir di IPK 2 Koma sekian lebih sedikit. Sementara banyak lowongan pekerjaan dewasa ini mensyaratkan IPK minimal 2,75 atau bahkan lebih. Dapat diperkirakan dunia kerja di republik ini hanya dipenuhi orang-orang berbekal IPK hasil mark-up contekan. Dan kalau sudah begitu jangan berharap banyak dari kinerja dari orang-orang seperti ini, jangan juga menyalahkan mereka,bukankah pembiaran menyontek ini, dari kita,oleh kita dan untuk kita???

Makanya setiap ada kebijakan pemerintah yang ngawur,non sense dan kadang tidak masuk akal,jangan buru-buru menyalahkan orang-orangnya. Karena kapasitas berpikir mereka lahir dari budaya kita yang sangat toleran terhadap kesalahan-kesalahan kecil yang berdampak besar. Kapasitas berlogika ini lahir dari sifat ini yang ramah terhadap apapun termasuk kesalahan. Menyontek memang kesalahan kecil, something tiny. Tapi bukankah hal-hal yang besar berawal dari hal yang mulanya kecil, dan tidak diacuhkan???. Seumpama daging tumbuh yang tadinya dikira kutil atau jerawat,tp mungkin saja akan menjadi tumor.

Mungkin banyak yang bakalan bilang tulisan ini terlalu naive. It’s OK. One Quote from me: Cheating is wrong. Apapun alasannya, nyontek itu tidak benar (vulgarkah bila saya katakan sebagai sebuah kejahatan sistemik???). Saya pernah nyontek, itu salah dan saya berharap kesalahan itu tidak ditiru dan diulangi oleh siapapun. Apapun alasannya,menyontek dan kecurangan lainnya itu salah dan tidak bisa ditolerir atas nama kebijakan,rasa kasihan,solidaritas, atau apapun.Titik

Membiasakan diri untuk selalu jujur memang pahit,tapi ketika kejujuran itu dinikmati dan tersosialisasi,maka yakinlah pada waktunya kejujuran itu akan berasa manis dan hangat seperti Jujur bubur kacang ijo (kok bawaannya malah jadi laper..:)).

Depok, 19-4-2012

Sehari setelah pelaksanaan UN

*btw kemarin katanya bahasa inggrisnya susah yah???makanya belajar…

Hai kamu…yah kamu…kamu yang disana…Tahukah dirimu bahwa godaan terbesar sore ini adalah mencoba membuka daftar kontakku dan menekan tombol “call”,menelponmu , rindu bertukar kabar bahkan sekedar mendengar suaramu.

Teman…

Aku lelah…Ini menggerogotiku dari dalam….diam-diam…sunyi-senyap…pelan-pelan

Mungkin semuanya berawal salah,berjalan serong dan berakhir runtuh

Dari mana semuanya berawal atau seharusnya berawal

Kupinta jawabmu

 

Teman…

 

Aku bingung…Ini menggusur logikaku…mendorong,menekan,merampas

Ketika semuanya seharusnya melenggang pasti

Ketika semuanya seharusnya meliuk-liuk dengan indah

Dan aku bosan dengan kata: seharusnya,mestinya, pasti

 

Sayang…

Aku meragu…ini mengoyak imanku… menyayat,mencabik,merobek

Mengapa langit malam harus hitam???

Mengapa malam digerus pagi???

Kemudian bintang – bintang meredup

 

Teman…

 

Aku bergeming…ini mengusikku…bermain-main,balik badan,meninggalkanku

Wahai kau yang merasa tak tersentuh

Wahai kau yang merasa aku tak butuh apapun…

Ini bukan soal pengertian…

Ini bukan soal pemahaman…

Aku tidak ingin dimengerti

Bukan pula ingin dipahami…

Tak ingin memaksa untuk didengar

Takkan’ memaksa untuk disimak

 

Karena…

 

Aku hanya butuh bicara

Aku hanya butuh bicara

Aku hanya butuh bicara

 

Pinggir Sungai, 10 April 2012

*Kebenaran hanya ada di langit…

Ikrar Delapan Desember…

Posted: December 8, 2011 in Uncategorized

Finger Cross

 

hari ini, gw berjanji (karena dilarang bersumpah)…seterusnya, blog ini kagak bakalan kayak kuburan…sunyi sepi sendiri…xixixixix…

*fingercross…

Imagine there’s no heaven
It’s easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today…

Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace…

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world…

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will live as one

…mungkin lebih baik kembali ke jaman dulu…saat manusia menyembah bulan dan hidup berdasarkan jalur bintang.

Ketimbang sekarang harus berjubel dengan hapalan ayat dan dogma,tapi menari diatas genangan darah saudaranya sendiri.

 

 

Dedicated to All the Death Soul in Cikeusik and Temanggung

Feb,8th,2011…

Saya menghujat orang yang mempertanyakan existensi manusia Jika kita merujuk pada hukum varietas Mendel, tidak ada satupun mahluk di dunia ini yang identik. Setiap orang terlahir dengan kondisi dan realitanya masing – masing. Jadi sungguh non senselah bila dikatakan ada dua insan yang memiliki kemiripan yang sama. Sampai disini, mungkin banyak yang bertanya: apa hubungannya existensi manusia sama teori varietas mendell???

Sekitar 3 hari yang lalu. nyaris tengah malam, pukul 23.44, saya mendapat sebuah SMS yang berisi curhatan salah seorang teman. Tak usahlah dijelaskan pengirim dan isi lengkap isi SMS tersebut. Intinya SMS itu sebuah jeritan seorang anak manusia yang exitensinya dipertanyakan orang lain. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh seseorang ketika mengatakan : “ Saya sebenarnya hanya ingin 3 anak, anak yang keempat adalah anak yang tidak diinginkan”.. atau lebih parah berkata : “ orang itu benar – benar tidak ada gunanya sama sekali!!”… saya sungguh tidak bisa mengerti benak orang – orang itu Tidak di dunia ini yang terjadi secara kebetulan.

Jauh hari sebelum teori Generatio Spontanea dicetuskan, seharusnya manusia tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi di galaksi ini sudah memiliki pola, tertata rapi dan mengalami proses dengan rumusan yang baku. oleh karena itu :SAYA TIDAK PERCAYA DENGAN “KEBETULAN”. Setiap manusia yang lahir di dunia sudah memiliki tugas masing – masing. Mengenai hebat atau tidak hebat, baik atau tidak baik, benar atau tidak benarnya tugas tersebut sebenarnya kelak hanya merupkan proses pem-persepsi-an orang yang lain. Hanya merupakan persepsi orang lain!!!seluruh hidup manusia adalah penilaian. Nilai itu yang akan kemudian membedakan citra seseorang. Tetapi apakah penilaian itu kemudian berhak mempertanyakan existensi seseorang??? Seseorang mungkin rebel, destroyer, antisosial, heretic dan lain sebagainya tetapi itu hanya perilaku ataupun kondisi pribadi yang tidak bisa kita gunakan sebagai delik untuk mempertanyakan existensinya. Baca Lanjutannya

Selfright To Suicide…

Posted: January 4, 2010 in Hanya sebuah tulisan

Senin, 30 November. Masyarakat tersentak dengan dua kejadian bunuh diri di Jakarta. Yang pertama dilakukan oleh IJ (wanita, 24 tahun) di Mal Grand Indonesia pukul 16.45 dalam waktu yang hampir bersamaan atau sekitar 4 jam kemudian, seorang pria berumur 25 tahun berinisial R di Senayan City. Pada kasus yang pertama, konon IJ melakukan bunuh diri karena sakit yang menyebabkan yang bersangkutan tidak bisa tidur sedangkan pada kasus yang kedua belum diketahui penyebabnya. Seperti kasus bunuh diri lainnya, penyebab bunuh diri selalu abu – abu, kurang dapat dimengerti dan mungkin hanya dapat dijelaskan oleh sang pelaku. Yang tersisa hanyalah seperti bentuk kematian lainnya , bisu, sunyi dan hanya menampakkan wajah kesedihan.

Yang menarik dari kasus bunuh diri ini dan nampak berbeda dari kasus bunuh diri lainnya karena tidak dilakukan di tempat tertutup dan tak diketahui orang, tetapi dilakukan di tempat ramai. Yah, sangat ramai malah, mengingat peak time sebuah mal atau tempat perbelanjaan biasanya antara jam 16.00 – 20.00. Dari beberapa analisis yang ada, kasus bunuh diri ini dianggap sebagai sebuah bentuk protes sosial sang korban terhadap tatanan masyarakat yang kini makin individualistis.

Hubungan antar personal, terutama dikota – kota besar memang mengalami degradasi yang luar biasa beberapa dewasa ini, meskipun hal ini bukan kondisi yang umum. Ditinjau dari konsep Johari Window ( Joseph Luft dan Harrington Ingham ), manusia memiliki 4 ruang dalam kepribadiannya : Terbuka ( yang dapat dikenal diri sendiri dan orang lain ), Terlena ( Tidak dapat dikenali oleh diri sendiri tapi dapat dikenali oleh orang lain, Rahasia ( Yang dikenal oleh diri sendiri dan tapi tak *ingin* dikenali oleh orang lain ) dan Gelap ( Yang tidak dikenali oleh diri sendiri maupun orang lain ). Dan  yang berkembang dewasa ini, ruang kuadran yang seharusnya seimbang menjadi tidak proporsional karena kuadran “ Rahasia “ dan “ Gelap” menjadi lebih dominan. Akibatnya memahami orang lain menjadi semakin rumit atau keinginan untuk dipahami semakin surut.

Saya tidak ingin melihat kasus ini perspektif keagamaan karena : 1. Saya tidak berkompeten di bidang itu, 2. Memahami konsep bunuh diri dari sudut pandang keagamaan akan menimbulkan justifikasi terhadap hal – hal tertentu ( at least that what i think ). Sekali lagi terlalu sulit untuk memahami penyebab kasus bunuh diri secara lengkap dan “ bersih “. Karena selama itu yang di dapatkan hanya mozaik – mozaik dari orang – orang tertentu yang “katanya” mengenal pelaku bunuh diri. Menyikapi kasus seperti ini, yang dapat dilakukan adalah bersimpati dengan kasus yang terjadi atas dasar KEMANUSIAAN dan yang paling penting berusaha agar kasus ini tidak terulang lagi.

KOMUNIKASI adalah kunci terbaik menghadapi kasus – kasus sosial termasuk pada kasus bunuh diri. Hal pertama adalah selalu mengusahakan komunikasi yang efektif, dengan cara :

1. Kesediaan untuk mendengar

Konon manusia diciptakan dengan dua telinga dan hanya satu mulut, agar mau lebih

banyak mendengar daripada hanya terus berbicara. Mulailah dari konsep yang  sederhana ini.

2. Konsep diri (self-concept) positif

Selalu mengeluarkan atau mengemukakan hal – hal yang positif termasuk ide – ide    yang selalu mengutamakan humanity.

3. Kejelasan pernyataan.

Berkomunikasilah dengan jelas, yang dapat dapat dimengerti tidak hanya oleh anda tapi juga orang yang berkomunikasi dengan anda (receiver)

4. Menguasai perasaan negatif

Selalu berpikiran positif, memahami posisi orang lain meskipun hal ini termasuk        sesuatu yang sangat sulit dilakukan.

5. Membuka diri

Tidak sedikit orang yang tidak suka membuka diri dengan orang lain karena tidak    mau dianggap cengeng atau rapuh. Ketahuilah bahwa sudah menjadi sifat dasar      manusia untuk berbagi dengan manusia lain, termasuk berbagi masalah.

6. Umpan balik

Kembali ke konsep awal. Anda jangan hanya mau didengar tetapi juga mau  mendengar dan menanggapi.

Akan sangat bijaksana, apabila kita tidak menghakimi pelaku bunuh diri tersebut, karena ( sekali lagi ) kita tidak akan pernah tahu apa yang ada di benak pelaku. Sesuatu yang mungkin kita anggap sepele, mungkin saja sangat sensitif bagi yang bersangkutan. Selain itu, kita patut menghargai perasaan keluarga yang ditinggalkan,karena kasus bunuh diri pastilah aib bagi mereka.

REMEMBER: WE ARE NOT GOD!!!